Senin, 05 Mei 2014

Tahun 2020, Jumlah Data Internet Meledak 50 Kali Lipat



Tahun 2020, Jumlah Data Internet Meledak 50 Kali Lipat
"Dengan big data, banyak artis yang mendadak tenar."

Harlem Shake VIVA.co.id
Pertumbuhan perangkat mobile dan penggunaan data (Internet) telah memunculkan potensi pengelolaan analitik ledakan data (big data) yang pada akhirnya berkontribusi untuk perusahaan.

Namun demikian, gelombang big data bukanlah panggung bagi perusahaan saja. Ledakan data juga memunculkan fenomena aneh di dunia digital. CEO CTI Group, Harry Surjanto mengatakan, big data merupakan fenomena digital yang sulit dipahami.

"Dengan big data, banyak artis yang mendadak tenar. Ada juga tarian aneh yang sulit dimengerti, yaitu Harlem Shake, setahun lalu," ujar Harry dalam sambutannya CTI Infrastructure Summit 2014 di Ballroom Ritz Carlton, Pasific Place, Jakarta.

Ia mengatakan, tarian Harlem yang pertama kali dibuat oleh lima orang saja kemudian dengan cepat menjadi viral, menyebar layaknya virus ke seluruh dunia.

"Dalam sebulan video itu ditonton satu miliar kali, dan dalam hitungan hari muncul tarian-tarian yang sama dalam berbagai versi," ujarnya.

Di luar keanehan itu, ledakan data menurut Harry telah berkontribusi pada berbagai bidang. Ia mengambil contoh bidang politik. Kampanye pencalonan Presiden AS Barrack Obama beberapa waktu lalu terbukti mampu berkontribusi dalam penggalangan suara.

Sementara di bidang kesehatan, analitik data di AS membuat Google mampu memprediksi penyebaran wabah virus flu burung. "Padahal ini merupakan wilayah kesehatan, yang bukan bisnis inti Google," kata dia.

Gambaran besar big data bisa terekam statistik, di mana dalam sehari terdapat 294 juta e-mail dikirim oleh manusia. Menariknya, pertumbuhan big data terus meroket, yang 90 persennya dihasilkan dalam dua tahun terakhir.

"Diperkirakan pada tahun 2020 mendatang, ledakan data akan naik 50 kali lipat, yang sebagian besar data berupa data tak terstruktur," ungkapnya.
Sayangnya, menurut Michael Barnes, Vice President Research Director Forrester Research, meski tergambar potensi dan kontribusi pengelolaan big data, kebanyakan perusahaan hanya memanfaatkan secuil dari big data yang bertebaran.

"Kebanyakan perusahan hanya menggunakan 5-10 persen data saja," ungkap Barnes dalam pemaparannya.

Sedangkan, tantangan pengelolaan big data, menurut Harry adalah bagaimana mengumpulkan, menganalisis, dan mendapatkan hasil yang ingin dicapai perusahaan.

Dikutip dari: http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/480438-tahun-2020--jumlah-data-internet-meledak-50-kali-lipat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar